Bagaimana Development Mobile Apps dengan Hybrid Framework?

By : Sapto | 03 November 2021 | Comnents : 0


Mengembangkan sebuah mobile apps membutuhkan beberapa pertimbangan, diantaranya dilihat dari user, ketersediaan budget, goals, serta kebutuhan. Ada beberapa tipe mobile apps yang dapat dikembangkan, yaitu Web apps, native, dan hybrid. Masing-masing tipe memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing, serta use case berdasarkan skenario yang berbeda-beda.

Dilihat dari segi biaya dan efisiensi, menggunakan platform Hybrid sedikit lebih unggul dibandingkan dengan 2 platform yang lain.

Kapan saat yang tepat menggunakan Hybrid platform?

1. Jika user/customer kita tersebar menggunakan semua device.

Atau dapat dikatakan aplikasi kita adalah aplikasi publik. Customer seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembuatan mobile apps, atau keputusan lain terkait produk kita. Jika platform yang dipergunakan oleh customer kita tersebar ke Android dan iOS, maka mobile apps kita memang harus dapat tersedia dalam platform tersebut. Jika dominan di salah satu platform, atau malah cenderung tidak ada dari platform yang lain, maka tidak dibutuhkan membuat 2 platform sekaligus, kan?

Lain halnya jika mobile apps kita adalah public apps. Mobile app development untuk aplikasi publik harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua user kita, yang notabene menggunakan device dengan OS yang bervariasi. Hybrid platform akan dapat mengakomodasi baik Android maupun IOS hanya dengan sekali pembuatan. Dengan Hybrid, maka apps kita akan tampil dengan kualitas yang sama di kedua OS.

2. Untuk melakukan penghematan biaya di awal pengembangan

“Bagaimana bisa, membuat mobile apps dengan Hybrid justru lebih murah?”

Membuat aplikasi Android atau iOS dengan hybrid framework bisa lebih menghemat biaya karena dengan sekali pengerjaan saja, dan hasilnya dapat dipergunakan untuk dua platform sekaligus. Biaya yang diperlukan untuk pengembangan aplikasi mobile dengan framework hybrid bisa lebih rendah hingga 50%, jika dibandingkan dengan mengembangkan native mobile apps pada 2 platform Android dan iOS.

Hal ini tentu saja sangat penting bagi perusahaan ketika akan memilih vendor Jasa Pembuatan aplikasi Android dan iOS. Biaya pembuatan mobile apps yang lebih rendah ini disebabkan rate mandays yang digunakan oleh Jasa pembuatan aplikasi tersebut dapat berkurang hingga setengah dari pengembangan dengan framework native, meskipun kompleksitas mobile apps juga menjadi faktor pembeda lainnya.

Misalnya,

Man days rate iOS developer sekitar 2.4 juta/hari*;

Man days rate Android developer sekitar 2 juta/hari*;

Mandays rate React Native developer sekitar 2.2 juta/hari*.

i. Jika masing-masing framework membutuhkan lama waktu pekerjaan 100 hari, maka proyek native framework untuk 2 platform akan mengeluarkan biaya sebagai berikut

Total biaya = (2.4 juta x 100 hari) + (2 juta x 100 hari) = 480 juta

ii. Sementara proyek react native hanya akan memakan biaya

Total biaya = 2.2 juta x 100 = 220 juta

(*merupakan ilustrasi biaya, detail perhitungan dapat menghubungi analyst Crocodic disini)

3. Butuh timeline yang lebih cepat

Seperti yang dicontohkan di atas, jasa pembuatan aplikasi android dan iOS dengan framewok hybrid hanya butuh 1 kali pengembangan untuk kemudian dapat diluncurkan ke android dan iOS. Oleh karena itu, lama waktu mobile apps development dapat dikurangi hingga separuh dari mobile apps development menggunakan native framework. Hybrid adalah pilihan yang tepat jika dibutuhkan sesegera mungkin untuk mempergunakan mobile apps perusahaan kita.

Akan tetapi, mobile apps development dengan hybrid framework juga mempunyai kekurangan. Ada 3 yang paling terasa akibatnya yaitu :

  1. Dibandingkan dengan Native framework, mobile apps yang dikembangkan dengan hybrid framework akan lebih lambat.
  2. Jika dibandingkan dalam jangka waktu lama, semakin banyak pengembangan custom di mobile apps hybrid akan memakan lebih banyak biaya dibandingkan dengan Native.
  3. Adanya ketergantungan pada pihak ketiga penyedia layanan framework hybrid.

Setiap ada update versi OS, maka kita harus menunggu update library yang dimiliki oleh pihak ketiga, sebelum kita dapat mengembangkan mobile apps menjadi up to date. Bug fixing juga demikian. Jika menggunakan vendor pembuatan aplikasi Android atau iOS, maka harus menunggu library terbaru untuk dapat bergerak memperbaiki kerusakan yang terjadi. Belum lagi resiko jika nanti pihak ketiga menghentikan layanan pengembangan hybridnya, maka mobile apps kita akan sulit untuk dikembangkan lebih lanjut.

Kesimpulannya, jika kita butuh pengembangan yang cepat dengan biaya lebih hemat di awal, maka hybrid framework adalah pilihan yang baik.

Akan tetapi, secara performa dan pengembangan jangka panjang, investasi pengembangan dengan Native framework masih menjadi pilihan yang lebih unggul.

Pastikan untuk berkonsultasi dengan vendor pembuatan mobile apps untuk lebih detailnya.

Crocodic terbuka untuk konsultasi pembuatan mobile apps, kapan saja dan gratis dengan mengakses link berikut ini!

Do you want your company to grow exponentially?
Contact us now. Consultation provided.